iklan

Minggu, 26 Juli 2026

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (6)

 


Hari ke-6 backpackeranku di Papua.

Masih dari rumahnya Ivo.

Pagi ini Ivo ngajakin aku keliling kompleks rumahnya, meski pada akhirnya dia jadi ngelewatin moment Aisha dijemput supir langganan ke sekolah.

Dulu aku pernah beberapa kali nginep di aspol, waktu kuliah. Nginep di tempatnya temenku. Tapi ada beberapa hal baru yang aku tahu karena diajakin keliling Ivo pagi itu. Ternyata anak-anak polisi kenapa bisa disiplin-disiplin sekali, mereka membangun kebiasaan itu dari masih kecil.

Kalau yang SD kayak Aisha itu, dijemput mobil kecil karena emang yang sekolah SD jumlahnya hanya beberapa orang aja. Nah yang SMP dan SMA kan lumayan banyak tuh, mereka naik mobil polisi yang lumayan besar itu. Ngumpul di depan semua. Nanti pulang bareng lagi. Keren ya.

Waktunya kan udah pasti ya, kalau yang telat ya ketinggalan mobilnya. Jadi kan kebiasaan untuk tepat waktu itu udah jadi makanan sehari-hari aja.

Setelah beres keliling sampe ke belakang-belakangnya kompleks brimob ini sambil ngobrol akhirnya kami sampai lagi di rumahnya Ivo.

Sore kami keluar lagi. Iya, kamu tidak salah baca, kami keluar lagi. Ivo kayaknya sangat memaksimalkan waktu liburanku itu biar tidak rugi. Padahal aku sudah merasa amat sangat merepotkan Ivo deh. Meski aku mau aja tinggal lebih lama demi setiap stok kopi buatan Ivo. Tapi ga deh, rasa tidak enakku lebih besar.

Kami pergi ke pusat cokelat di Timika. Tempatnya lumayan jauh. Tapi oleh-oleh dari Timika tuh, ya kalau bukan noken, ya kopi. Aku tidak beli noken, kopi juga ku belikan untuk bapak sama Rio. Ibuku dan Weti tidak dapat oleh-oleh kali ini karena aku bingung apa yang harus aku kasih ke mereka. Cokelat yang aku beli, paling buat dua ponakanku.

Sebelum ke tempat cokelat, kami mampir kembali ke bandara lama moses kailangin, yang pas hari sabtu kemarin kami datangin dan ga bisa masuk. Kali ini kami bisa masuk. Akhirnya aku bisa foto di depan ban guide ikon bandara moses kailaingin ini. Tapi kalau boleh jujur, aku bahkan udah lupa kalau aku harus foto di bandara ini. Untung ivo sekeluarga masih mau datang kesini lagi.



Kembali ke toko cokelat. Setelah beli cokelat, kami mampir makan malam dulu. Kali ini aku meminta untuk aku yang bayarin, karena jujur aja, aku sudah merasa sangat tidak enak. Untungnya Ivo mau aku yang bayar kali ini, karena kemarin di titik kumpul, aku ga dibolehin bayarin.

Aku amat sangat bersyukur punya teman seperti Ivo ini. Tapi setelah banyak bertemu orang karena sering backpackeran, aku tahu dan kenal, ada beberapa orang yang ternyata bisa memanfaatkan kebaikan teman macam Ivo ini. Aku Cuma berharap, Ivo sekeluarga tidak akan pernah ketemu orang yang memanfaatkan kebaikan hati mereka ini.

Pulangnya, aku langsung packing, karena besok aku akan kembali ke Sorong.