iklan

Tampilkan postingan dengan label Solo travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo travelling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juli 2026

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (6)

 


Hari ke-6 backpackeranku di Papua.

Masih dari rumahnya Ivo.

Pagi ini Ivo ngajakin aku keliling kompleks rumahnya, meski pada akhirnya dia jadi ngelewatin moment Aisha dijemput supir langganan ke sekolah.

Dulu aku pernah beberapa kali nginep di aspol, waktu kuliah. Nginep di tempatnya temenku. Tapi ada beberapa hal baru yang aku tahu karena diajakin keliling Ivo pagi itu. Ternyata anak-anak polisi kenapa bisa disiplin-disiplin sekali, mereka membangun kebiasaan itu dari masih kecil.

Kalau yang SD kayak Aisha itu, dijemput mobil kecil karena emang yang sekolah SD jumlahnya hanya beberapa orang aja. Nah yang SMP dan SMA kan lumayan banyak tuh, mereka naik mobil polisi yang lumayan besar itu. Ngumpul di depan semua. Nanti pulang bareng lagi. Keren ya.

Waktunya kan udah pasti ya, kalau yang telat ya ketinggalan mobilnya. Jadi kan kebiasaan untuk tepat waktu itu udah jadi makanan sehari-hari aja.

Setelah beres keliling sampe ke belakang-belakangnya kompleks brimob ini sambil ngobrol akhirnya kami sampai lagi di rumahnya Ivo.

Sore kami keluar lagi. Iya, kamu tidak salah baca, kami keluar lagi. Ivo kayaknya sangat memaksimalkan waktu liburanku itu biar tidak rugi. Padahal aku sudah merasa amat sangat merepotkan Ivo deh. Meski aku mau aja tinggal lebih lama demi setiap stok kopi buatan Ivo. Tapi ga deh, rasa tidak enakku lebih besar.

Kami pergi ke pusat cokelat di Timika. Tempatnya lumayan jauh. Tapi oleh-oleh dari Timika tuh, ya kalau bukan noken, ya kopi. Aku tidak beli noken, kopi juga ku belikan untuk bapak sama Rio. Ibuku dan Weti tidak dapat oleh-oleh kali ini karena aku bingung apa yang harus aku kasih ke mereka. Cokelat yang aku beli, paling buat dua ponakanku.

Sebelum ke tempat cokelat, kami mampir kembali ke bandara lama moses kailangin, yang pas hari sabtu kemarin kami datangin dan ga bisa masuk. Kali ini kami bisa masuk. Akhirnya aku bisa foto di depan ban guide ikon bandara moses kailaingin ini. Tapi kalau boleh jujur, aku bahkan udah lupa kalau aku harus foto di bandara ini. Untung ivo sekeluarga masih mau datang kesini lagi.



Kembali ke toko cokelat. Setelah beli cokelat, kami mampir makan malam dulu. Kali ini aku meminta untuk aku yang bayarin, karena jujur aja, aku sudah merasa sangat tidak enak. Untungnya Ivo mau aku yang bayar kali ini, karena kemarin di titik kumpul, aku ga dibolehin bayarin.

Aku amat sangat bersyukur punya teman seperti Ivo ini. Tapi setelah banyak bertemu orang karena sering backpackeran, aku tahu dan kenal, ada beberapa orang yang ternyata bisa memanfaatkan kebaikan teman macam Ivo ini. Aku Cuma berharap, Ivo sekeluarga tidak akan pernah ketemu orang yang memanfaatkan kebaikan hati mereka ini.

Pulangnya, aku langsung packing, karena besok aku akan kembali ke Sorong.

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (5)



Hari ke-5 backpacker di Papua.

Masih dari rumahnya Ivo.

Kali ini aku mulai hari agak siang, meski sebenarnya pagi aku udah dikasih sarapan dan segelas kopi yang enak sekali buatan Ivo.

Pokoknya akan ku bahas terus itu kopi buatan Ivo itu.

Hari ini aku pergi sendirian aja, pinjem motornya Ivo.

Aku ke pasar sentral. Sebenarnya aku udah beberapa kali ngelewatin pasar ini sama ivo sekeluarga, tapi kalau malam. Jadi aku mau datang pas siang. Aku mau lihat aktivitas mama-mama itu jualan.

Sebelum pergi, ivo awalnya nunjukin jalan keluar dari kompleks rumahnya ini dulu, karena sejak kedatanganku kesini, aku tidak pernah keluar sendiri kecuali sama keluarganya Ivo, dan selama ini aku cuma jadi penumpang aja. Hehe.

Ditunjukin juga jalan ke pasar sentralnya, sampai pulangnya gimana. Cocok banget ivo jadi tour guide emang. Infonya lengkap.

Dengan kecepatan sedang akhirnya aku menuju pasar sentral, cari tempat parkir, memarkir motor dan ku foto karena takut motornya ilang. Berabe pula urusannya kalau sampai hilang. Ku parkir di samping jualan sirih mamah-mamah. Terus jalan kaki-lah aku keliling pasar.


Pertama-tama tentu saja aku nyari titipan ivo. Kemudian sekalian aku nyari apa yang bisa kujadikan oleh-oleh. Meski ujunh-ujungnya tentu saja kopi yang jadi oleh-olehku. Aku juga sempat lihat-lihat noken, meski ga beli sih. Ada sih yang harganya Rp 100.000,-an tapi agak kureng, yang bagus yang harganya lumayan.

Terus aku tuh pengen foto suasana pasarnya, pengen foto mamah-mamah yang jual itu, tapi agak segan. Jadi biar ga sekedar foto aja aku belilah salak tuh. Kebetulan ada yang jualan salak. Meski ujung-ujungnya aku ga foto juga. Kayak ga deh, ga sopan.

Udah nih, udah selesai urusan oleh-oleh dan titipan Ivo. Tapi masih terlalu panas untuk aku pulang. Pergilah aku ke Mall. Ngapain? Hehe, apalagi kalau bukan nonton. Sama persis yang aku lakukan ketika di Lombok. Kali ini film-nya Joko Anwar, Ghost in the Cell yang jadi pemicu-nya kenapa aku mau ke mall ketika backpackeran gini.



Sudah jadi aturan tidak tertulis, kalau aku tidak akan ke Mall kalau backpackeran. Ya kecuali kalau ada film yang pengen banget aku tonton. Tapi sebelum itu, aku makan siang dulu sih.

Pulangnya aku mau mampir ke Gereja katedral 3 raja dulu. Udah di depan pagar banget nih aku, tapi pas di pojokan kayak pos satpam itu, ada ku lihat beberapa orang lagi duduk-duduk, di depan mereka ada botol aqua. Ah, mundur aku. Aku tidak berani masuk.

Alasannya? Feelingku bilang tidak. Dan langsunglah pulang ke rumah ivo.

Jangan ditanya alasan lain selain feeling. Karena aku menusia yang amat mempercayai feelingku. Seaman apapun kalau feelingku bilang ga, aku tidak akan pernah melakukannya. Karena feelingku ini menyelamatkan banyak hal ketika aku backpackeran solo gini.

Kali ini aku pulang, lewat jalan bandara. Sebenarnya jalan ini tidak disarankan ivo untuk aku lewatin. Tapiiii, dasar anak ini aja pengen nyobain, ya udah ku lewatin aja itu jalannya. Dan fix sih, aku jadi tahu kenapa ivo nyaranin aku ga ngelewatin jalan ini.

Sebenarnya yah, jalanan dari toko ke rumah, jauh lebih menyeramkan, karena ada hutan yang harus aku lewatin, tanpa penerangan jalan, jalannya berbukit dan berkelok-kelok. Selalu ada kemungkinan ada ular tiba-tiba lewat, atau aku diikutin orang mabuk, tapiii karena kayaknya otakku udah tertanam Papua itu cukup menakutkan yang ada hutan-hutannya karena ada kemungkinan OPM tiba-tiba muncul dan nembak random, jadi aku ikutan takut, dan lumayan ngebutlah ya di jalan itu. Padahal itu jalanan lurusss aja dan lebar. Tapi aku takut aja.

Sampai di rumah. Ternyata Ivo mengkhawatirkan aku yang Cuma ke pasar, tapi kok ga balik-balik. Takut aku kenapa-napa. Padahal aku lagi ngadem di mall. Maafkan aku lupa ngabarin.

Sorenya kami keluar lagi. Aku sampai mikir, ini kenapa kami tiap hari keluar. Ga Cuma sekali, tapi yang berkali-kali. Padahal aku tahu Ivo itu introvert kayak aku. Aku jadi ga enak, sampai aku memutuskan aku harus cepat-cepat menyudahi liburan di Timika ini. Karena emang pas datang ke Timika ini, aku tidak punya rencana seberapa lama aku akan ada di kota ini.

Kali ini kami ke Kali Baliem waga-waga, karena di listku ada ke kali, jadi ivo berusaha mencari penggantinya, karena kali yang ada di listku tuh lumayan jauh tempatnya, dan cenderung tidak aman.

Padahal kan list itu aku bikin-bikin aja, ga harus semua-nya aku datangin, mana sempatnya aja. biar aku ada alasan untuk balik ke kota itu lagi.






Kali Baliem waga-waga ini tempatnya cukup asri. Pas kami nyampe ada cewek cowok yang lagi pacaran berdua. Tentu saja tidak ramai karena ini hari senin. Setelah mereka pergi, kemudian kami menguasai tempat itu. Asli, tempatnya bagus.

Cuma,lagi-lagi otak ini begitu ngelihat hutan. Wah.. seru kalau ada yang tiba-tiba muncul. Meski sekali lagi, tempat ini aman. Sampai kami pulang karena mau hujan, dan udah mau magrib.

Ah disini aku sempat mengutarakan keinginanku untuk pulang besok. Tapi setelah negoisasi, akhirnya aku memutuskan pulang lusa aja. Aku takut kalau liburanku makin panjang, Ivo dan keluarganya harus setiap hari nganterin aku keluar.

Udah keluar sore. Ternyata kami masih keluar lagi malamnya. Diajakin ke Titik Kumpul. Salah satu tempat hitz di Timika. Di depannya playground, dan belakangnya cafe. Tempatnya cozy, meski belakangan kami baru tahu kalau di lantai atas tuh ada pembubaran panitia futsal yang kami tonton kemarin.

Aku dan ivo sempat deep talk di area mandi bola. Di jalan pulang,aku ngerasa dejavu, kok kayak adegan deep talk sambil ngelihatin anak-anak main bola tuh pernah terjadi di hidupku deh, tapi bukan sama Ivo. Ah, ternyata pas pulang lebaran ketupat kemarin, aku melakukan hal yang sama dengan sepupuku. Dia ngawasin anaknya, sambil kami deep talk.

Ah, aku sudah tua ternyata. Tempat deep talk bareng temanku bukan lagi cafe, tapi playground.





Di jalan pulang, aku udah nyari tiket pulang. Meski ada kejadian aku salah pilih tanggal sih dan keburu di bayar. Dua kali lagi. Pertama kepilih tanggal 28 bulan depan, kemudian bulannya benar tanggalnya yang salah, yang mana harusnya 29. Dahlah capek banget sama otak dan tangan ini, tidak sinkron.

 Yah, namanya juga udah tua ya, dan lagi pula ini backpacker Fitria Koniyo, harus ada drama terjadi di hidupku ini. Kalau backpackernya mulus-mulus aja, kayaknya bukan jalan ceritaku deh.

Tidak nginep di hotel, makan dibayarin Ivo, kemana-mana dianterin Ivo sekeluara. Benar-benar duitnya ga keluar sama sekali. Jadilah ternyata budget liburan itu tetap harus keluar karena keteledoranku. Padahal duitnya kan bisa dipake buat beli tiket ke Timika lagi yah. 

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (4)

 


Hari ke-4 backpackeranku ke Papua.

Masih dari Timika di rumahnya Ivo.

Kami (Aku, ivo sekeluarga) pagi-pagi udah ke Kuala Kencana. Mau olahraga pagi. Ini yang olahraga ivo sekeluarga sih, aku jalan-jalan ngelihatin sekitaran Kuala Kencana aja sih. Kan semalam udah lihat suasana Kuala kencana-nya pas malam, jadi sekarang giliran lihat pagi-nya. Juga explore lebih luas.

Tempatnya lumayan rame, tapi yang ga serame kalo car free day sih, mungkin karena akses kesini tidak bebas ya. Ada stand makanan yang letaknya tepat di depan Masjid. Pilihannya banyak, meski kami sarapannya udah dibawa Ivo. Jujur aku lebih suka sarapan bareng keluarganya Ivo, lebih enak.. hehe

Di taman Kuala kencana ini, ada Masjid dan ada Gereja juga. Tempatnya hadap-hadapan meski terpisah jarak yang lumayaaannnn banget.

Aku juga sempat ke memorial park, tempat dimana pernah ada penembakan oleh OPM yang menyebabkan ada orang Jerman yang meninggal. Agak ketar ketir juga hamba jalan di dekat-dekat situ. Hari sial kan ga ada di kalender ya. Tapi aman kok.

Kami sebenarnya mau sarapan di cafe dekat-dekat taman itu. Tapi rame. Akhirnya kami melipir cari tempat yang agak sepi. Dan sarapan disana.

Terus karena pas nyari tempat buat sarapan, kami ngelewatin perpustakaan, Ivo sekalian ngajakin ke perpusnya, yang sumpah aku sukaaaaa sekaliiiiii. Koleksinya lengkap. Komik Onepiece-nya lengkap, dan banyak sekali komik lainnya, yang kayaknya aku kalau tinggal disitu, tiap hari aku bisa nongkrong di perpus dari buka sampai tutup itu perpus.





Bayangin di hari minggu yang cerah itu, ada perpustakan yang buka. Perpustakaan dengan koleksi komik lengkap, dan tempat yang enak sekaliiiiiiiiiiiiii. Aku mau hidup disini sih.

Selain dilihatin Perpustakaannya, Ivo juga ngajakin aku ke supermarketnya. Ini masuknya pake ID suami Ivo lagi. Bayangin gimana terjaganya tempat ini. Mau masuk ke supermarket, mau belanja aja, pake ID. Kalau ada yang bilang aku bukan di Indonesia, aku bakalan percaya-percaya aja sih.

Selanjutnya aku dibawa keliling ngelihatin perumahan orang-orang Freeport di kompleks Kuala kencana ini. Ada cluster-clusternya gitu. Mulai dari petinggi, sampai kelas pekerjanya punya tempat yang menurutku bukan kaleng-keleng sih.

Tapi jujur aku gagal focus sama langitnya sih, gila... biruuuuu banget. asliiii.

Kami sempat mampir di salah satu cluster, main di taman bermainnya sebentar. Setiap cluster ini punya taman bermain. Meski ada taman bermain yang kelihatan tidak pernah dipakai, pas di bagian cluster para petinggi itu. Kayaknya anaknya ga disini juga kali ya. Pasti di luar negeri.

Ini aku tinggal disini betah sih, ga perlu aku keluar-keluar dari kompleks Kuala kencana ini kalau tidak perlu-perlu banget. dikasih cluster yang paling bawah juga aku mau-mau aja sih.

Tapi kayaknya buat punya hunian di kompleks kuala kencana ini pasti tidak mudah. Temenku yang kerja di Freeport aja ga pernah ku lihat dia posting foto di kompleks-kompleks ini.

Kalau ada yang nanya kenapa aku tidak menghubungi temanku itu. Karena dia ada di kawasan tambangnya. Buat kesana tidak mudah kawan. Ivo yang udah lama disini aja belum sampai sana, ya masa’ aku yang baru berapa hari udah naik kesana aja.

Puas diajakin keliling. Pulang lah kami ke rumah Ivo. Istirahat.

Siangnya lanjut lagi. Kami ke Gold Stone, ini tuh area futsal. Ngapain? Tentu saja nonton bola. Kok aku nonton bola? Karena Ivo ada kegiatan, suaminya juga punya kegiatan di acara Gold Stone ini. Jadilah aku ikutan.

Kebetulan pertandingannya udah Final. Pertandingan anak SMP sih. Tapi asliiiii seru sekali. AKu suka sekali vibes-nya. Apalagi aku dibekali es kopi buatan Ivo. Lengkap sudah.



Beres nonton bola, kami mampir beli makan, dan pulang. Makan bersama di rumah

Jumat, 24 Juli 2026

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (3)




Hari ke-3 dari backpackeranku di Papua. Masih dari Sorong, tapi aku mau pindah hari ini, aku mau ke Timika. Tujuan utama backpackeran kali ini.

Pagi-pagi aku udah beberes, packing lagi. Naik grab ke bandara, karena Uci-nya lagi sakit. Sinus-nya kambuh, dan aku ga mungkin minta dia nganterin aku ke Bandara. Aku udah cukup bersyukur dia mau nampung aku selama 2 hari.

Pesawatku sebenarnya jam 11-an, tapi aku udah di bandara jam 8 lewat. Rajin aja aku tiba-tiba. Hehe. Dibantu kenalannya ivo pas di bandara Sorong, meski dia lumayan sibuk.

Dengan pengalaman pop mie kemarin, aku tidak ngide beli lagi. Aku menikmati aja penerbangannya, dan akhirnya aku berangkat juga di Bandara Moses Kailangi di Timika. Aku dijemput Ivo sekeluarga yang habis ada acara, dan langsung menuju ke rumahnya. Karena nyampe-nya udah siang, jadi sekalian istirahat dulu.

Sorenya baru aku diajakin keluar.

Tempat pertama yang kami datangi adalah Hutan Rimba Papua. Ini tuh hotel,ada cafe-nya juga. Tapi peruntukannya spesifik untuk orang-orang Freeport. Ke cafe-nya bisa sih untuk umum, tapi pas kami datang udah sore banget, cafe-nya udah tutup. Jadi kami cuma lihat-lihat lobby hotelnya aja. Bagus kalau kata aku sih. Tentram.







Tempat kedua yang kami datangi adalah Bandara Lama Moses Kilangin. Sebenarnya mau masuk ke bandaranya, tapi di sabtu minggu, bandaranya tidak dibuka untuk umum. Jadilah kami tidak bisa masuk,tapi gak apa-apa, tujuan utamanya bukan kesitu juga. Mau sunsetan aja di bandra lama.

Sedikit Info, ada 2 bandara di Timika. Namanya sama. Dua-duanya masih beroperasi, bedanya bandara aku mendarat tadi siang tuh, bandara baru, peruntukannya untuk Umum. Bandara lama yang kami datangi ini, tapi ga diizinin karena weekend, peruntukannya khusus untuk Freeport aja.

Lanjut...

Ternyata oh ternyata... bandara lama ini kalau sore, ruameeeeee polllll. Mungkin karena sabtu sore kali yah, jadi rame. Ini tuh kayak alun-alun gitu kali yah kalau bisa dibilang. Ada orang olahraga, orang nyantai-nyantai, bahkan ada orang yang ngumpul-ngumpul buat mabuk. Untung aja ga rese’, entah ya kalau udah malam gimana kondisinya.

Tapiiiiii.... langitnya bagussss banget. Asli, wajar sih kalau ini jadi tempat ngumpulnya orang-orang. Langit sore-nya bagus banget. Rame tapi ga yang bikin baterai sosialku terkuras.

Apalagi ivo udah persiapan banget, bawa kue lontar, es kopi, makanan berat buat 2 anaknya. Gelar tikar sih ini udah piknik banget, meski akhirnya kami duduk di aspal.






Menjelang margib kami pindah ke Kuala kencana.

Nah ini salah satu tempat yang ada di list-ku meski sunset bandara lama juga ada di listku sih, eh si Hutan Rimba Cafe juga. Kuala kencana adalah tempat yang wajib didatangi kalau ke Timika. Akses masuknya agak lumayan juga sih kalau umum menurut Ivo, karena harus nunjukin KTP di bagian penjagaannya, tapi karena suaminya Ivo, Polisi, jadi ga di periksa ID-nya kalau masuk. Cukup buka aja jendela-nya biar bisa dilihat berapa banyak orang did alma mobil.

Kemudian Melengganglah kami masuk ke kuala kencana-nya. Lumayan jaraknya dari pos penjagaan itu ke bagian dalamnya. Dan bagian dalamnya ini terdiri dari beberapa bagian lagi. Kami menuju bagian tengahnya.

Tempat ini adalah tempat di Indonesia yang tidak ada kabel listrik gelantungan, bersih. Aku jadi inget mantanku pernah bilang, dia pengen banget suatu hari nanti di Indonesia tuh, listriiknya pakai kabel bawah tanah, jadi ga gelantungan semrawut kayak sekarang. Gila ya, dia ngomong itu di 2008-an, dan aku di 2026 bisa datang ke tempat seperti yang dia  bicarakan itu.

 Kuala kencana saat malam adalah tempat yang nyaman sekali. Aku sempat ditemani Aisha ke Tugu di bagian tengahnya taman ini. Menurut Aisha, biasanya di tugu yang ada air mancurnya ini, suka ada lampu warna warni, tapi malam itu entah kenapa malam itu tidak nyala. Biarlah, aku bisa foto disitu pas terang aja.

Menurutku, suasana malam di Kuala kencana itu nyaman, apalagi kalau sore yah. Nah si Kuala Kencana ini juga salah satu fasilitas-nya Freeport ya, selain bandara lama. Wajar aja kalau bagus banget kan. Beberapa tempat yang aku datangi, yang ga dikelola pemerintah emang jauuuuhhh lebih bagus.

Setelah puas melihat-lihat Kuala kencana ketika malam, kami kemudian pulang ke rumahnya Ivo. Kami akan ke Kuala kencana lagi besok pagi, karena suasana malamnya udah, besok harus dapat suasana paginya. Tuh kan, aku bisa foto di tugu-nya besok. Hehe.



 

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (2)

 


Hari ke-2 backpackeranku ke Papua, masih dari Sorong.

Berhubung aku udah dipastikan berangkat ke Timika besok, jadi hari ini aku masih stay di Sorong.

Cuaca di Sorong tuh moody banget. Pagi yang lumayan terik, beberapa jam kemudian udah hujan lumayan gede, terus mendung, panas, hujan lagi pas Uci ngejemput Ranfi sekolah, dia sampai pakai mantel hujan, tapi pulangnya udah ga pake, karena di sekolahnya ga hujan pulangnya juga tidak, padahal jaraknya ga nyampe 5 menit naik motor.

Karena hal itu, aku memutuskan untuk keluar sore hari aja, mau ke Pulau Doom sekalian sunsetan kalau cuacanya bersahabat.

Dari rumahnya Uci, aku naik ojek sampai ke Pelabuhan Doom. Oh iya, sekedar Info, rumah uci itu ada di KM 12, jadi ke pelabuhan doom itu lumayan. Pake maxim motor bayarnya Rp 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah). Kalau pakai Gojek atau Grab, entah kenapa aku tidak bisa pilih tujuan pelabuhan doom. Jadilah aku pake maxim-nya uci karena aku tidak punya aplikasinya.

Jam 5-an aku baru keluar. Langsung ke pelabuhan Doom. Pas nyampe, udah ada kapal yang mau berangkat, aku langsung ikut aja. Begitu naik, tidak pakai nanya, ku sodorkan uang Rp 10.000,- kan kalau kurang pasti dimintai lagi, eh ternyata dibalikin Rp5.000,-,. Aku tidak tahu itu murah atau gimana, karena yang ku dapati info-nya tuh sekali jalan Rp 10.000,-, kayaknya aku disangka warlok kali. Ya kan, tampangku emang timur sekali.



Nyebrangnya dari Pelabuhan Doom ke pulau Doomnya tuh persis kayak dari Bitung ke pulau Lembeh. Tapi ini kapalnya ga buat angkut motor. Aku ga tahu bisa atau tidak ngangkut motor, pas aku, ga ada motor yang diangkut soalnya, orang semua. Dan aku naiknya dari bibir pantai, ga dari dermaga-nya, jadi kayaknya emang ga bisa motor deh.

Nyebrang bentar banget, ga bakalan terasa udah nyampe aja. Aku langsung disamperin anak muda yang bawa becak, aku udah nyari info, biayanya Rp 10.000,- untuk dianter ke Gua jepang. Tapi karena aku takut jaraknya lumayan dan sepertinya  butuh waktu lama untuk sampai, jadi ketika ditawarin harga Rp 20.000,- langsung oke aja.

Naiklah aku ke becak ini. Dikayuh manual. Untung aku tidak menawar. Sepanjang jalan, dia ceritain soal sejarah pulau Doom ini, bahkan info-info pribadi mulai dibagikan, kayak dia aslinya anak Tomohon, tapi karena ibu bapaknya cerai, dan dia emang lahir dan besar di Doom ini, jadi ketika ke Tomohon pas ibu-nya meninggal, dia jadi aneh sendiri, baliklah dia ke Doom.

Dia juga ngasih info yang amat sangat aku butuhkan soal kapal ke raja ampat. Bisalah next aku backpacker ke Raja ampat.

Nyampe di Gua jepang, aku naik sendiri. Dia menawarkan untuk menunggu, karena susah nyari becak buat turun dari sini. Aku oke-in lagi karena emang pas kesini, aku tidak bertemu satupun becak yang lain.




Jujur aja Gua Jepang ini, tidak terlalu besar. Tidak sebesar pas di Bukittinggi, tidak juga sebesar di Kawangkoan, tapi tempatnya bagus, ada sebuah gereja diatasnya yang tentram sekali. Aku suka sekali warna cat gereja-nya. Ada anak-anak yang sedang main bola kaki di halaman gereja-nya, tapi aku tidak foto. Ada beberapa hal yang menurutku tidak sopan kalau aku foto tanpa izin.


Masuk ke Gua Jepang ini  ada biayanya, Rp 10.000,-, tapi sampai atas, bolak balik aku, ga ada orang sama sekali yang sepertinya adalah petugasnya, yang ada hanyalah bocil-bocil yang lagi ngelempar buah pake sendal. Dan mereka tidak peduli dengan keberadaanku.

Tak lama-lama disana, aku langsung turun lagi. Bukan apa-apa, tempatnya udah selesai aku lihat semua soalnya. Kayaknya kalau ada petugasnya bakalan lebih lama waktu yang aku habiskan disini.

Nah, di jalan pulang, si anak muda ini (AKU LUPA NAMANYA T_T) bilang kalau ada cafe yang jadi tujuan wisatawan kalau ke pulau doom, namanya Sahara Jetty.

Alih-alih ke pelabuhan lagi, aku minta dianterin kesitu aja. Karena aku kayaknya dibawa keliling pulau doom sambil dia cerita, jadilah pas dia bilang biaya-nya semua Rp 50.000,-, aku dengan senang hati membayar saat sampai di Sahara Jetty-nya.

Masuklah akhirnya aku ke Sahara Jetty. Ini tuh cafe yang rameeeee pollllll. Padahal itu hari jumat. Aku ga kebayang sih kalau sabtu minggu, bakalan serame apa.

Aku langsung antri mau pesan makan karena ga mungkin aku masuk ke Cafe ini tapi tidak pesan makanan.  Disini tuh termyata ada biaya Rp 10.000,- buat masuk, karena ada yang masuk ke cafe ini cuma buat mandi pantai aja. Jadi aku mikir, sekalian aja aku bayar biaya masuk sekalian sama pesan makan.

Karena masih sore, aku nyari cemilan aja. Ada kasbi, Rp 30.000,-, sama biaya masuk Rp 10.000,-, jadi total-nya Rp 40.000,-. Aku ga pesan minum, karena sebelum keluar tadi aku udah ngopi bareng Uci dan dua bocilnya, juga aku bawa tumbler. Pas aku tanya totalnya, mbak-nya bilang Rp25.000,- aja. Kupastiin sampe 2 kali, takutnya dia salah. Tapi beneran Rp 25.000,- aja, aku bayarlah pake qris. Kemudian nyari tempat duduk.

Disini pelayanannya tidak begitu lama. So so lah ya. Kayaknya mereka udah cukup terbiasa dengan banyaknya pengunjung.

Yang menurutku lucu adalah setiap kali mbak yang layanin aku pas pesan makan itu lewat bawa makanan punya yang lain, dia mampir dulu ke meja aku, suruh aku sabar dan ngajakin ngobrol beberapa menit sebelum pergi lagi.

Aku sampai mikir, apa aku sebegitu kasihannya ya? Datang kesini sendiri, diantara semua orang yang datang sama rombongan. Sampai makananku datang, pokoknya dia ajakin ngobrol terus. Dia berhenti datang ke mejaku setelah makananku datang.





Saking tidak enaknya karena mbak-nya baik banget ngajakin aku ngobrol, aku tuh pengen pulangnya langsung naik kapal dari sahara jetty ini, tapi karena mbak-nya udah tidak muncul lagi, aku akhirnya ke meja kasir lagi, pamit ke mbak-nya dan jalan kaki ke pelabuhan. Bersiap pulang.

Aku langsung naik ke kapal yang ready tanpa membayar turunnya baru aku bayar Rp 5.000,-, pesan taksi kembali ke rumahnya Uci.

Solo backpacker ke Sorong dan Timika


Akhirnya aku menulis lagi...

Sebenarnya ada tulisan soal backpackeranku di bulan Agustus tahun lalu yang belum ku tulis sama sekali. Waktu aku backpackeran ke Dieng dan Jogja. Nanti yah, kalau aku lagi rajin, pasti ku tulis. Karena tentu saja ada part-part unik yang harus aku ceritakan ke pembaca blog-ku yang Cuma satu dua orang itu. Hehe

Oke, sesuai judul... Jadi backpackeran ini ke Timika dan Sorong.

Tapi kita mulai dari awal kenapa bisa terpilih si Sorong dan Timika ini sebagai tujuan backpackeranku tahun ini. Sejujurnya tahun ini, aku punya rencana sendiri, ada barang yang mau ku beli, tapi berhubung duitnya kayaknya bakalan lama kekumpulnya juga ada satu dan lain hal terjadi di hidupku, maka.. aku memilih liburan titpis-tipis aja.

Di awal tahun ketika ditanyain Rio mau kemana, aku udah jawab sih. Aku mau ke daerah Timur. Karena ada beberapa temanku yang di daerah Timur. Ivo di Timika, Evi di Ende, Nelya dan Mutu di Timor Leste. Dipikiranku seru kali yah kalau ngunjungin mereka semua. Tapi ternyata uangku tidak sebanyak itu. Apalagi pas aku pergi, harga avtur lagi naik-naiknya gara-gara perang Iran sama Amerika. Dahlah.

Tapi tenang, uang mungilku ini selalu dipertemukan dengan tiket murah. Alhamdulillah.

Suatu hari aku posting di IG, terus Ivo bilanglah kalau tiket ke Timika via Sorong tuh murah. Ga nyampe sejuta. Dengan pengalaman kemarin ke Sorong 2 tahun lalu, harga tiketnya juga masuk. Gaslah, tanpa perlu pikir panjang, aku memutuskan untuk ke Timika tahun ini.

Nah, kayaknya rezeki-ku emang ke Sorong dan Timika tahun ini, karena ternyata Uci pindah ke Sorong, dua minggu sebelum jadwal pergiku ke Sorong. Pas, berarti aku ke Sorong ketemu Uci, ke Timika ketemu Ivo.

Tapi tunggu sebentar... kayak ada yang kurang. Oh iya, izin ke Ibu Bapaknya gimana? Sementara semua orang yang tahu rencanaku berulang-ulang mempertingatkanku kalau itu bukan daerah yang aman untuk didatangi.

Secara mengejutkan, izin itu gampang sekali diberikan . Tidak ada drama pertanyaan “Itu bukan yang tempat perang-perang?” kayak dulu pas aku izin ke Banda Neira. Atulah, di Banda Neira mau lihat lumba-lumba dikira mau masuk hutan ke tempat yang ada perang-perangnya, giliran aku ke Papua, yang beneran daerahnya sering konflik suku, malah tidak ada komen sama sekali.

Apa karena aku udah pernah ke Sorong sebelum ini dan aman-aman aja yah? Entahlah... Aku juga tidak tahu kenapa izin itu gampang sekali diberikan. Tapi gitu kali yang kalau semesta mendukung. Jalanan lancar kayak pake tol.

Eh tapi ternyata, drama kehidupan ini selalu ada. Terjadi 2 hari sebelum keberangkatanku. Tiket dari manado ke Sorong aman, tiket Sorong ke Timika yang tiba-tiba dipindah ke hari selanjutnya. Aturannya aku nyampe sorong pagi, besok siangnya udah terbang lagi ke Timika, tapi ternyata oh ternyata tiketnya dipindah ke hari berikutnya, dan ini tanpa pemberitahuan apa-apa yah, sampai bikin Ivo panik, dan konfirmasi ke temennya yang kebetulan punya banyak info soal Bandara Sorong, dan ternyata emang di cancel. Alasannya? Aku tidak tahu.. aku bahkan tidak dapat email atau SMS pemberitahuan.

Tapi tenang, Show must go on.

Oh iya, aku dapat tiket Rp 1.385.267 (satu juta tiga ratus delapan puluh lima ribu dua ratus enam puluh tujuh rupiah) dari Manado ke Sorong dengan Trans Nusa.

Di hari kamis yang cerah, berangkatlah aku ke Sorong. Aku ngide banget pesan Pop Mie buat sarapan, karena oh karena, fasilitas makannya ternyata Cuma snack dan air mineral kecil. Baru juga diemin mie-nya biar lembek, eh tiba-tiba ada pengumuman “Prepare for landing. Astagfirullah, mie-nya aja belum di makan, udah mau landing aja. Jadilah aku dan bapak-bapak di sebelahku yang ikutan beli pop mie bareng aku jadi berlomba makan mie panas. Sumpah, aku ga bakalan ngide beli pop mie di pesawat lagi kalau jarak tempuhnya Cuma 1 jam lebih dikit.

Mie-nya berhasil kami habiskan dengan cepat, masalahnya adalah si kuah mie. Aku menyerah kalau disuruh seruput itu kuah mie panas sambil dikejar waktu, mana pramugarinya udah beres ngumpulin sampah pas kami mulai makan tadi. Mau aku masukin kantong kursi, tumpah nanti. Mau aku taroh di atas meja, lah karena mau landing, meja kudu di lipat. Udahlah, panggil pramugarinya aja deh. Bodo amat mereka mau prepare landing apa gimana. Gak lagi lagi deh beli pop mie segala.

Singkat cerita akhirnya aku tiba dengan selamat di Sorong. Ini adalah kali ke-3 aku di Bandara ini. Pergi dan Pulang pas ke Ambon 2 tahun yang lalu lewat Sorong juga. Tapi bedanya kali ini aku emang dikasih kesempatan explore Sorong. Kemarin kan ke Mall-nya aja. Sekarang udah ada mall yang baru kata Uci.


Sampai bandara, aku langsung menuju rumahnya Uci. Aku tidak dibolehkan nginep hotel, karena kebetulan rumahnya ada 2 kamar, jadi aku disuruh tidur disitu aja.

2 tahun yang lalu, pas aku nyampe cuacanya persis kayak hari itu. Sebentar panas terik, sebentar hujan, terus panas lagi. Moody banget. Jadi kami memutuskan untuk keluar sore-sore aja, nyari sunset.

Sore hari kami langsung siap-siap nyari sunset di SMC (Sorong Modern City), ini tuh dulunya disebut tembok berlin, sekarang disebut SMC karena ini adalah tanah reklamasi yang bakalan ada Mall-nya nanti. Gede banget mallnya. Bangunannya udah 90% jadi, kayaknya beberapa bulan lagi bakalan buka. Vibes-nya mirip kawasan megamall. Tapi asli, disini sunsetnya baguuuuuuuussssss bangetttttttt.

Aku dan Uci yang kebetulan tidak bawa tripod akhirnya foto-foto pake timer. Ya namanya juga usaha ya kan. Tiba-tiba ada ibu-ibu di sebelah kami yang menawarkan untuk fotoin kami. Bukan 1 kali, banyaakkk kali, ditawarin terus dan berulang-ulang, bahkan beberapa dia ngarahin gaya-nya, sementara itu kami mau bantuin dia foto, beliau ga mau. Sungkanlah kami tiap kali dia nawarin lagi.





Pokoknya satu saranku, kalau kalian datang kesini, bawa cemilan. Bawa es kopi kekinian kalian itu, karena tidak ada yang jualan. Tidak ada sama sekali. Kayaknya karena weekdays kali ya, tapi ampun... weekdays aja banyak betul orangnya.

Aku sempat lihat postingan Uci yang kesini pas weekend dan mereka sampai ga dapat tempat saking banyaknya orang. Wong pas aku aja orangnya banyak betul, apalagi weekend. Untung aja sunsetnya juara sekali.

Selesai Sunsetan, kami mampir makan di Mall. Nah Mall ini yang 2 tahun lalu aku datangi. Aku tidak akan lupa soal nasi goreng Solaria-ku yang ga dikasih sendok itu. Tapi pada akhirnya aku makan di solaria lagi. Ckck.

Oh iya Sorong Mall ini lebih terkenal dengan Ramayana sekarang. Mall yang baru itu namanya Paragon. Menurut Uci tempatnya jauh lebih bagus, tapi kami tidak kesana. Ini tempat zumba-nya Ucy. Pas kami lewatin tadi sore sih tempatnya bagus.

Selesai makan, pulanglah kami ke rumahnya Uci. Besok akan ku lanjutkan perjalan explore Sorong-nya. Semoga cuacanya bersahabat