Hari ke-6 backpackeranku di Papua.
Masih dari rumahnya Ivo.
Pagi ini Ivo ngajakin aku keliling kompleks rumahnya, meski pada
akhirnya dia jadi ngelewatin moment Aisha dijemput supir langganan ke sekolah.
Dulu aku pernah beberapa kali nginep di aspol, waktu kuliah. Nginep di
tempatnya temenku. Tapi ada beberapa hal baru yang aku tahu karena diajakin
keliling Ivo pagi itu. Ternyata anak-anak polisi kenapa bisa disiplin-disiplin
sekali, mereka membangun kebiasaan itu dari masih kecil.
Kalau yang SD kayak Aisha itu, dijemput mobil kecil karena emang yang
sekolah SD jumlahnya hanya beberapa orang aja. Nah yang SMP dan SMA kan lumayan
banyak tuh, mereka naik mobil polisi yang lumayan besar itu. Ngumpul di depan
semua. Nanti pulang bareng lagi. Keren ya.
Waktunya kan udah pasti ya, kalau yang telat ya ketinggalan mobilnya.
Jadi kan kebiasaan untuk tepat waktu itu udah jadi makanan sehari-hari aja.
Setelah beres keliling sampe ke belakang-belakangnya kompleks brimob ini
sambil ngobrol akhirnya kami sampai lagi di rumahnya Ivo.
Sore kami keluar lagi. Iya, kamu tidak salah baca, kami keluar lagi. Ivo
kayaknya sangat memaksimalkan waktu liburanku itu biar tidak rugi. Padahal aku
sudah merasa amat sangat merepotkan Ivo deh. Meski aku mau aja tinggal lebih
lama demi setiap stok kopi buatan Ivo. Tapi ga deh, rasa tidak enakku lebih
besar.
Kami pergi ke pusat cokelat di Timika. Tempatnya lumayan jauh. Tapi
oleh-oleh dari Timika tuh, ya kalau bukan noken, ya kopi. Aku tidak beli noken,
kopi juga ku belikan untuk bapak sama Rio. Ibuku dan Weti tidak dapat oleh-oleh
kali ini karena aku bingung apa yang harus aku kasih ke mereka. Cokelat yang
aku beli, paling buat dua ponakanku.
Sebelum ke tempat cokelat, kami mampir kembali ke bandara lama moses
kailangin, yang pas hari sabtu kemarin kami datangin dan ga bisa masuk. Kali
ini kami bisa masuk. Akhirnya aku bisa foto di depan ban guide ikon bandara
moses kailaingin ini. Tapi kalau boleh jujur, aku bahkan udah lupa kalau aku
harus foto di bandara ini. Untung ivo sekeluarga masih mau datang kesini lagi.
Kembali ke toko cokelat. Setelah beli cokelat, kami mampir makan malam
dulu. Kali ini aku meminta untuk aku yang bayarin, karena jujur aja, aku sudah
merasa sangat tidak enak. Untungnya Ivo mau aku yang bayar kali ini, karena kemarin
di titik kumpul, aku ga dibolehin bayarin.
Aku amat sangat bersyukur punya teman seperti Ivo ini. Tapi setelah
banyak bertemu orang karena sering backpackeran, aku tahu dan kenal, ada
beberapa orang yang ternyata bisa memanfaatkan kebaikan teman macam Ivo ini.
Aku Cuma berharap, Ivo sekeluarga tidak akan pernah ketemu orang yang
memanfaatkan kebaikan hati mereka ini.
Pulangnya, aku langsung packing, karena besok aku akan kembali ke
Sorong.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar