iklan

Minggu, 26 Juli 2026

Solo backpacker ke Sorong dan Timika (5)



Hari ke-5 backpacker di Papua.

Masih dari rumahnya Ivo.

Kali ini aku mulai hari agak siang, meski sebenarnya pagi aku udah dikasih sarapan dan segelas kopi yang enak sekali buatan Ivo.

Pokoknya akan ku bahas terus itu kopi buatan Ivo itu.

Hari ini aku pergi sendirian aja, pinjem motornya Ivo.

Aku ke pasar sentral. Sebenarnya aku udah beberapa kali ngelewatin pasar ini sama ivo sekeluarga, tapi kalau malam. Jadi aku mau datang pas siang. Aku mau lihat aktivitas mama-mama itu jualan.

Sebelum pergi, ivo awalnya nunjukin jalan keluar dari kompleks rumahnya ini dulu, karena sejak kedatanganku kesini, aku tidak pernah keluar sendiri kecuali sama keluarganya Ivo, dan selama ini aku cuma jadi penumpang aja. Hehe.

Ditunjukin juga jalan ke pasar sentralnya, sampai pulangnya gimana. Cocok banget ivo jadi tour guide emang. Infonya lengkap.

Dengan kecepatan sedang akhirnya aku menuju pasar sentral, cari tempat parkir, memarkir motor dan ku foto karena takut motornya ilang. Berabe pula urusannya kalau sampai hilang. Ku parkir di samping jualan sirih mamah-mamah. Terus jalan kaki-lah aku keliling pasar.


Pertama-tama tentu saja aku nyari titipan ivo. Kemudian sekalian aku nyari apa yang bisa kujadikan oleh-oleh. Meski ujunh-ujungnya tentu saja kopi yang jadi oleh-olehku. Aku juga sempat lihat-lihat noken, meski ga beli sih. Ada sih yang harganya Rp 100.000,-an tapi agak kureng, yang bagus yang harganya lumayan.

Terus aku tuh pengen foto suasana pasarnya, pengen foto mamah-mamah yang jual itu, tapi agak segan. Jadi biar ga sekedar foto aja aku belilah salak tuh. Kebetulan ada yang jualan salak. Meski ujung-ujungnya aku ga foto juga. Kayak ga deh, ga sopan.

Udah nih, udah selesai urusan oleh-oleh dan titipan Ivo. Tapi masih terlalu panas untuk aku pulang. Pergilah aku ke Mall. Ngapain? Hehe, apalagi kalau bukan nonton. Sama persis yang aku lakukan ketika di Lombok. Kali ini film-nya Joko Anwar, Ghost in the Cell yang jadi pemicu-nya kenapa aku mau ke mall ketika backpackeran gini.



Sudah jadi aturan tidak tertulis, kalau aku tidak akan ke Mall kalau backpackeran. Ya kecuali kalau ada film yang pengen banget aku tonton. Tapi sebelum itu, aku makan siang dulu sih.

Pulangnya aku mau mampir ke Gereja katedral 3 raja dulu. Udah di depan pagar banget nih aku, tapi pas di pojokan kayak pos satpam itu, ada ku lihat beberapa orang lagi duduk-duduk, di depan mereka ada botol aqua. Ah, mundur aku. Aku tidak berani masuk.

Alasannya? Feelingku bilang tidak. Dan langsunglah pulang ke rumah ivo.

Jangan ditanya alasan lain selain feeling. Karena aku menusia yang amat mempercayai feelingku. Seaman apapun kalau feelingku bilang ga, aku tidak akan pernah melakukannya. Karena feelingku ini menyelamatkan banyak hal ketika aku backpackeran solo gini.

Kali ini aku pulang, lewat jalan bandara. Sebenarnya jalan ini tidak disarankan ivo untuk aku lewatin. Tapiiii, dasar anak ini aja pengen nyobain, ya udah ku lewatin aja itu jalannya. Dan fix sih, aku jadi tahu kenapa ivo nyaranin aku ga ngelewatin jalan ini.

Sebenarnya yah, jalanan dari toko ke rumah, jauh lebih menyeramkan, karena ada hutan yang harus aku lewatin, tanpa penerangan jalan, jalannya berbukit dan berkelok-kelok. Selalu ada kemungkinan ada ular tiba-tiba lewat, atau aku diikutin orang mabuk, tapiii karena kayaknya otakku udah tertanam Papua itu cukup menakutkan yang ada hutan-hutannya karena ada kemungkinan OPM tiba-tiba muncul dan nembak random, jadi aku ikutan takut, dan lumayan ngebutlah ya di jalan itu. Padahal itu jalanan lurusss aja dan lebar. Tapi aku takut aja.

Sampai di rumah. Ternyata Ivo mengkhawatirkan aku yang Cuma ke pasar, tapi kok ga balik-balik. Takut aku kenapa-napa. Padahal aku lagi ngadem di mall. Maafkan aku lupa ngabarin.

Sorenya kami keluar lagi. Aku sampai mikir, ini kenapa kami tiap hari keluar. Ga Cuma sekali, tapi yang berkali-kali. Padahal aku tahu Ivo itu introvert kayak aku. Aku jadi ga enak, sampai aku memutuskan aku harus cepat-cepat menyudahi liburan di Timika ini. Karena emang pas datang ke Timika ini, aku tidak punya rencana seberapa lama aku akan ada di kota ini.

Kali ini kami ke Kali Baliem waga-waga, karena di listku ada ke kali, jadi ivo berusaha mencari penggantinya, karena kali yang ada di listku tuh lumayan jauh tempatnya, dan cenderung tidak aman.

Padahal kan list itu aku bikin-bikin aja, ga harus semua-nya aku datangin, mana sempatnya aja. biar aku ada alasan untuk balik ke kota itu lagi.






Kali Baliem waga-waga ini tempatnya cukup asri. Pas kami nyampe ada cewek cowok yang lagi pacaran berdua. Tentu saja tidak ramai karena ini hari senin. Setelah mereka pergi, kemudian kami menguasai tempat itu. Asli, tempatnya bagus.

Cuma,lagi-lagi otak ini begitu ngelihat hutan. Wah.. seru kalau ada yang tiba-tiba muncul. Meski sekali lagi, tempat ini aman. Sampai kami pulang karena mau hujan, dan udah mau magrib.

Ah disini aku sempat mengutarakan keinginanku untuk pulang besok. Tapi setelah negoisasi, akhirnya aku memutuskan pulang lusa aja. Aku takut kalau liburanku makin panjang, Ivo dan keluarganya harus setiap hari nganterin aku keluar.

Udah keluar sore. Ternyata kami masih keluar lagi malamnya. Diajakin ke Titik Kumpul. Salah satu tempat hitz di Timika. Di depannya playground, dan belakangnya cafe. Tempatnya cozy, meski belakangan kami baru tahu kalau di lantai atas tuh ada pembubaran panitia futsal yang kami tonton kemarin.

Aku dan ivo sempat deep talk di area mandi bola. Di jalan pulang,aku ngerasa dejavu, kok kayak adegan deep talk sambil ngelihatin anak-anak main bola tuh pernah terjadi di hidupku deh, tapi bukan sama Ivo. Ah, ternyata pas pulang lebaran ketupat kemarin, aku melakukan hal yang sama dengan sepupuku. Dia ngawasin anaknya, sambil kami deep talk.

Ah, aku sudah tua ternyata. Tempat deep talk bareng temanku bukan lagi cafe, tapi playground.





Di jalan pulang, aku udah nyari tiket pulang. Meski ada kejadian aku salah pilih tanggal sih dan keburu di bayar. Dua kali lagi. Pertama kepilih tanggal 28 bulan depan, kemudian bulannya benar tanggalnya yang salah, yang mana harusnya 29. Dahlah capek banget sama otak dan tangan ini, tidak sinkron.

 Yah, namanya juga udah tua ya, dan lagi pula ini backpacker Fitria Koniyo, harus ada drama terjadi di hidupku ini. Kalau backpackernya mulus-mulus aja, kayaknya bukan jalan ceritaku deh.

Tidak nginep di hotel, makan dibayarin Ivo, kemana-mana dianterin Ivo sekeluara. Benar-benar duitnya ga keluar sama sekali. Jadilah ternyata budget liburan itu tetap harus keluar karena keteledoranku. Padahal duitnya kan bisa dipake buat beli tiket ke Timika lagi yah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar