Akhirnya aku menulis lagi...
Sebenarnya ada tulisan soal backpackeranku di bulan Agustus tahun lalu
yang belum ku tulis sama sekali. Waktu aku backpackeran ke Dieng dan Jogja.
Nanti yah, kalau aku lagi rajin, pasti ku tulis. Karena tentu saja ada
part-part unik yang harus aku ceritakan ke pembaca blog-ku yang Cuma satu dua
orang itu. Hehe
Oke, sesuai judul... Jadi backpackeran ini ke Timika dan Sorong.
Tapi kita mulai dari awal kenapa bisa terpilih si Sorong dan Timika ini
sebagai tujuan backpackeranku tahun ini. Sejujurnya tahun ini, aku punya
rencana sendiri, ada barang yang mau ku beli, tapi berhubung duitnya kayaknya
bakalan lama kekumpulnya juga ada satu dan lain hal terjadi di hidupku, maka..
aku memilih liburan titpis-tipis aja.
Di awal tahun ketika ditanyain Rio mau kemana, aku udah jawab sih. Aku
mau ke daerah Timur. Karena ada beberapa temanku yang di daerah Timur. Ivo di
Timika, Evi di Ende, Nelya dan Mutu di Timor Leste. Dipikiranku seru kali yah
kalau ngunjungin mereka semua. Tapi ternyata uangku tidak sebanyak itu. Apalagi
pas aku pergi, harga avtur lagi naik-naiknya gara-gara perang Iran sama
Amerika. Dahlah.
Tapi tenang, uang mungilku ini selalu dipertemukan dengan tiket murah. Alhamdulillah.
Suatu hari aku posting di IG, terus Ivo bilanglah kalau tiket ke Timika
via Sorong tuh murah. Ga nyampe sejuta. Dengan pengalaman kemarin ke Sorong 2
tahun lalu, harga tiketnya juga masuk. Gaslah, tanpa perlu pikir panjang, aku
memutuskan untuk ke Timika tahun ini.
Nah, kayaknya rezeki-ku emang ke Sorong dan Timika tahun ini, karena
ternyata Uci pindah ke Sorong, dua minggu sebelum jadwal pergiku ke Sorong.
Pas, berarti aku ke Sorong ketemu Uci, ke Timika ketemu Ivo.
Tapi tunggu sebentar... kayak ada yang kurang. Oh iya, izin ke Ibu
Bapaknya gimana? Sementara semua orang yang tahu rencanaku berulang-ulang
mempertingatkanku kalau itu bukan daerah yang aman untuk didatangi.
Secara mengejutkan, izin itu gampang sekali diberikan . Tidak ada drama
pertanyaan “Itu bukan yang tempat perang-perang?” kayak dulu pas aku izin ke
Banda Neira. Atulah, di Banda Neira mau lihat lumba-lumba dikira mau masuk
hutan ke tempat yang ada perang-perangnya, giliran aku ke Papua, yang beneran
daerahnya sering konflik suku, malah tidak ada komen sama sekali.
Apa karena aku udah pernah ke Sorong sebelum ini dan aman-aman aja yah?
Entahlah... Aku juga tidak tahu kenapa izin itu gampang sekali diberikan. Tapi
gitu kali yang kalau semesta mendukung. Jalanan lancar kayak pake tol.
Eh tapi ternyata, drama kehidupan ini selalu ada. Terjadi 2 hari sebelum
keberangkatanku. Tiket dari manado ke Sorong aman, tiket Sorong ke Timika yang
tiba-tiba dipindah ke hari selanjutnya. Aturannya aku nyampe sorong pagi, besok
siangnya udah terbang lagi ke Timika, tapi ternyata oh ternyata tiketnya
dipindah ke hari berikutnya, dan ini tanpa pemberitahuan apa-apa yah, sampai
bikin Ivo panik, dan konfirmasi ke temennya yang kebetulan punya banyak info
soal Bandara Sorong, dan ternyata emang di cancel. Alasannya? Aku tidak tahu..
aku bahkan tidak dapat email atau SMS pemberitahuan.
Tapi tenang, Show must go on.
Oh iya, aku dapat tiket Rp 1.385.267 (satu juta tiga ratus delapan puluh lima ribu dua ratus enam puluh tujuh
rupiah) dari Manado ke Sorong dengan Trans Nusa.
Di hari kamis yang cerah, berangkatlah aku ke Sorong. Aku ngide banget
pesan Pop Mie buat sarapan, karena oh karena, fasilitas makannya ternyata Cuma
snack dan air mineral kecil. Baru juga diemin mie-nya biar lembek, eh tiba-tiba
ada pengumuman “Prepare for landing.
Astagfirullah, mie-nya aja belum di makan, udah mau landing aja. Jadilah aku
dan bapak-bapak di sebelahku yang ikutan beli pop mie bareng aku jadi berlomba
makan mie panas. Sumpah, aku ga bakalan ngide beli pop mie di pesawat lagi
kalau jarak tempuhnya Cuma 1 jam lebih dikit.
Mie-nya berhasil kami habiskan dengan cepat, masalahnya adalah si kuah
mie. Aku menyerah kalau disuruh seruput itu kuah mie panas sambil dikejar
waktu, mana pramugarinya udah beres ngumpulin sampah pas kami mulai makan tadi.
Mau aku masukin kantong kursi, tumpah nanti. Mau aku taroh di atas meja, lah
karena mau landing, meja kudu di lipat. Udahlah, panggil pramugarinya aja deh.
Bodo amat mereka mau prepare landing apa gimana. Gak lagi lagi deh beli pop mie
segala.
Singkat cerita akhirnya aku tiba dengan selamat di Sorong. Ini adalah
kali ke-3 aku di Bandara ini. Pergi dan Pulang pas ke Ambon 2 tahun yang lalu
lewat Sorong juga. Tapi bedanya kali ini aku emang dikasih kesempatan explore
Sorong. Kemarin kan ke Mall-nya aja. Sekarang udah ada mall yang baru kata Uci.
Sampai bandara, aku langsung menuju rumahnya Uci. Aku tidak dibolehkan
nginep hotel, karena kebetulan rumahnya ada 2 kamar, jadi aku disuruh tidur
disitu aja.
2 tahun yang lalu, pas aku nyampe cuacanya persis kayak hari itu.
Sebentar panas terik, sebentar hujan, terus panas lagi. Moody banget. Jadi kami
memutuskan untuk keluar sore-sore aja, nyari sunset.
Sore hari kami langsung siap-siap nyari sunset di SMC (Sorong Modern
City), ini tuh dulunya disebut tembok berlin, sekarang disebut SMC karena ini
adalah tanah reklamasi yang bakalan ada Mall-nya nanti. Gede banget mallnya.
Bangunannya udah 90% jadi, kayaknya beberapa bulan lagi bakalan buka. Vibes-nya
mirip kawasan megamall. Tapi asli, disini sunsetnya baguuuuuuuussssss
bangetttttttt.
Aku dan Uci yang kebetulan tidak bawa tripod akhirnya foto-foto pake
timer. Ya namanya juga usaha ya kan. Tiba-tiba ada ibu-ibu di sebelah kami yang
menawarkan untuk fotoin kami. Bukan 1 kali, banyaakkk kali, ditawarin terus dan
berulang-ulang, bahkan beberapa dia ngarahin gaya-nya, sementara itu kami mau
bantuin dia foto, beliau ga mau. Sungkanlah kami tiap kali dia nawarin lagi.
Pokoknya satu saranku, kalau kalian datang kesini, bawa cemilan. Bawa es
kopi kekinian kalian itu, karena tidak ada yang jualan. Tidak ada sama sekali.
Kayaknya karena weekdays kali ya, tapi ampun... weekdays aja banyak betul
orangnya.
Aku sempat lihat postingan Uci yang kesini pas weekend dan mereka sampai
ga dapat tempat saking banyaknya orang. Wong pas aku aja orangnya banyak betul,
apalagi weekend. Untung aja sunsetnya juara sekali.
Selesai Sunsetan, kami mampir makan di Mall. Nah Mall ini yang 2 tahun
lalu aku datangi. Aku tidak akan lupa soal nasi goreng Solaria-ku yang ga
dikasih sendok itu. Tapi pada akhirnya aku makan di solaria lagi. Ckck.
Oh iya Sorong Mall ini lebih terkenal dengan Ramayana sekarang. Mall
yang baru itu namanya Paragon. Menurut Uci tempatnya jauh lebih bagus, tapi
kami tidak kesana. Ini tempat zumba-nya Ucy. Pas kami lewatin tadi sore sih
tempatnya bagus.
Selesai makan, pulanglah kami ke rumahnya Uci. Besok akan ku lanjutkan
perjalan explore Sorong-nya. Semoga cuacanya bersahabat






Tidak ada komentar:
Posting Komentar