Hari ke-2 backpackeranku ke Papua, masih dari Sorong.
Berhubung aku udah dipastikan berangkat ke Timika besok, jadi hari ini
aku masih stay di Sorong.
Cuaca di Sorong tuh moody banget. Pagi yang lumayan terik, beberapa jam
kemudian udah hujan lumayan gede, terus mendung, panas, hujan lagi pas Uci
ngejemput Ranfi sekolah, dia sampai pakai mantel hujan, tapi pulangnya udah ga
pake, karena di sekolahnya ga hujan pulangnya juga tidak, padahal jaraknya ga
nyampe 5 menit naik motor.
Karena hal itu, aku memutuskan untuk keluar sore hari aja, mau ke Pulau
Doom sekalian sunsetan kalau cuacanya bersahabat.
Dari rumahnya Uci, aku naik ojek sampai ke Pelabuhan Doom. Oh iya,
sekedar Info, rumah uci itu ada di KM 12, jadi ke pelabuhan doom itu lumayan.
Pake maxim motor bayarnya Rp 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah). Kalau pakai
Gojek atau Grab, entah kenapa aku tidak bisa pilih tujuan pelabuhan doom.
Jadilah aku pake maxim-nya uci karena aku tidak punya aplikasinya.
Jam 5-an aku baru keluar. Langsung ke pelabuhan Doom. Pas nyampe, udah
ada kapal yang mau berangkat, aku langsung ikut aja. Begitu naik, tidak pakai
nanya, ku sodorkan uang Rp 10.000,- kan kalau kurang pasti dimintai lagi, eh
ternyata dibalikin Rp5.000,-,. Aku tidak tahu itu murah atau gimana, karena
yang ku dapati info-nya tuh sekali jalan Rp 10.000,-, kayaknya aku disangka
warlok kali. Ya kan, tampangku emang timur sekali.
Nyebrangnya dari Pelabuhan Doom ke pulau Doomnya tuh persis kayak dari Bitung
ke pulau Lembeh. Tapi ini kapalnya ga buat angkut motor. Aku ga tahu bisa atau
tidak ngangkut motor, pas aku, ga ada motor yang diangkut soalnya, orang semua.
Dan aku naiknya dari bibir pantai, ga dari dermaga-nya, jadi kayaknya emang ga
bisa motor deh.
Nyebrang bentar banget, ga bakalan terasa udah nyampe aja. Aku langsung
disamperin anak muda yang bawa becak, aku udah nyari info, biayanya Rp 10.000,-
untuk dianter ke Gua jepang. Tapi karena aku takut jaraknya lumayan dan sepertinya
butuh waktu lama untuk sampai, jadi
ketika ditawarin harga Rp 20.000,- langsung oke aja.
Naiklah aku ke becak ini. Dikayuh manual. Untung aku tidak menawar.
Sepanjang jalan, dia ceritain soal sejarah pulau Doom ini, bahkan info-info
pribadi mulai dibagikan, kayak dia aslinya anak Tomohon, tapi karena ibu
bapaknya cerai, dan dia emang lahir dan besar di Doom ini, jadi ketika ke
Tomohon pas ibu-nya meninggal, dia jadi aneh sendiri, baliklah dia ke Doom.
Dia juga ngasih info yang amat sangat aku butuhkan soal kapal ke raja
ampat. Bisalah next aku backpacker ke Raja ampat.
Nyampe di Gua jepang, aku naik sendiri. Dia menawarkan untuk menunggu,
karena susah nyari becak buat turun dari sini. Aku oke-in lagi karena emang pas
kesini, aku tidak bertemu satupun becak yang lain.
Jujur aja Gua Jepang ini, tidak terlalu besar. Tidak sebesar pas di Bukittinggi,
tidak juga sebesar di Kawangkoan, tapi tempatnya bagus, ada sebuah gereja
diatasnya yang tentram sekali. Aku suka sekali warna cat gereja-nya. Ada
anak-anak yang sedang main bola kaki di halaman gereja-nya, tapi aku tidak
foto. Ada beberapa hal yang menurutku tidak sopan kalau aku foto tanpa izin.
Masuk ke Gua Jepang ini ada
biayanya, Rp 10.000,-, tapi sampai atas, bolak balik aku, ga ada orang sama
sekali yang sepertinya adalah petugasnya, yang ada hanyalah bocil-bocil yang
lagi ngelempar buah pake sendal. Dan mereka tidak peduli dengan keberadaanku.
Tak lama-lama disana, aku langsung turun lagi. Bukan apa-apa, tempatnya
udah selesai aku lihat semua soalnya. Kayaknya kalau ada petugasnya bakalan
lebih lama waktu yang aku habiskan disini.
Nah, di jalan pulang, si anak muda ini (AKU LUPA NAMANYA T_T) bilang
kalau ada cafe yang jadi tujuan wisatawan kalau ke pulau doom, namanya Sahara
Jetty.
Alih-alih ke pelabuhan lagi, aku minta dianterin kesitu aja. Karena aku
kayaknya dibawa keliling pulau doom sambil dia cerita, jadilah pas dia bilang
biaya-nya semua Rp 50.000,-, aku dengan senang hati membayar saat sampai di
Sahara Jetty-nya.
Masuklah akhirnya aku ke Sahara Jetty. Ini tuh cafe yang rameeeee
pollllll. Padahal itu hari jumat. Aku ga kebayang sih kalau sabtu minggu,
bakalan serame apa.
Aku langsung antri mau pesan makan karena ga mungkin aku masuk ke Cafe
ini tapi tidak pesan makanan. Disini tuh
termyata ada biaya Rp 10.000,- buat masuk, karena ada yang masuk ke cafe ini cuma
buat mandi pantai aja. Jadi aku mikir, sekalian aja aku bayar biaya masuk
sekalian sama pesan makan.
Karena masih sore, aku nyari cemilan aja. Ada kasbi, Rp 30.000,-, sama
biaya masuk Rp 10.000,-, jadi total-nya Rp 40.000,-. Aku ga pesan minum, karena
sebelum keluar tadi aku udah ngopi bareng Uci dan dua bocilnya, juga aku bawa
tumbler. Pas aku tanya totalnya, mbak-nya bilang Rp25.000,- aja. Kupastiin
sampe 2 kali, takutnya dia salah. Tapi beneran Rp 25.000,- aja, aku bayarlah
pake qris. Kemudian nyari tempat duduk.
Disini pelayanannya tidak begitu lama. So so lah ya. Kayaknya mereka
udah cukup terbiasa dengan banyaknya pengunjung.
Yang menurutku lucu adalah setiap kali mbak yang layanin aku pas pesan
makan itu lewat bawa makanan punya yang lain, dia mampir dulu ke meja aku, suruh
aku sabar dan ngajakin ngobrol beberapa menit sebelum pergi lagi.
Aku sampai mikir, apa aku sebegitu kasihannya ya? Datang kesini sendiri,
diantara semua orang yang datang sama rombongan. Sampai makananku datang,
pokoknya dia ajakin ngobrol terus. Dia berhenti datang ke mejaku setelah
makananku datang.
Saking tidak enaknya karena mbak-nya baik banget ngajakin aku ngobrol,
aku tuh pengen pulangnya langsung naik kapal dari sahara jetty ini, tapi karena
mbak-nya udah tidak muncul lagi, aku akhirnya ke meja kasir lagi, pamit ke
mbak-nya dan jalan kaki ke pelabuhan. Bersiap pulang.
Aku langsung naik ke kapal yang ready tanpa membayar turunnya baru aku
bayar Rp 5.000,-, pesan taksi kembali ke rumahnya Uci.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar